Select Page

Patah Tanpa Alasan

Aku masih di sini, Puan. Patah tanpa alasan. Menunggu keraguan hilang dari kepalamu—sampai waktu terus menderas bagai hujan dan masih saja kauenggan memberi jawaban. Aku harus pergi.Aku tidak sedang meragu, Tuan. Aku hanya tak ingin suatu saat nanti salah satu dari...

Pergi Tanpa Kata

Seperti halnya simpul yang terikat erat, itulah kita. Yang saling menguatkan ketika salah satu dari kita jatuh dalam kesedihan, keterpurukan. Namun, entah mengapa aku merasa kamu perlahan menjauh, hingga rasanya punggungmu jauh sekali dari pandanganku.Ada satu-dua hal...

Selamanya, Aku Ingin Singgah

Di peron kereta, aku menantimu tanpa detik dan tanggal. Bertahan di sana sampai kaudatang—meskipun hanya serupa kabut, hati hanya berharap, suaramu segera menyelusup di telingaku.Percayalah, selain penantianmu yang sepi itu, aku pun tengah melangkah mendekatimu, meski...

Di Sini, Aku Membunuh Sepi

Malam ini langit redup tanpa bulan dan bintang. Gerimis turun menghantarkan petrikor. Persis  malam  itu, suatu hari di bulan Maret. Pertama kita bertemu di kedai kopi milikmu. Kita saling tersipu, ingin menatap lebih lama tapi pandangan harus dijaga....

Sepucuk Perpisahan

Puan, kutitipkan sepucuk kabar masa depan di jendela rumahmu—berita yang kutahu akan mencabik dadamu. Tapi, inilah waktu dan takdir. Kita hanya harus menjalaninya saja.Terhelak kutahan napasku dalamdalam, menyembunyikan perasaan pedih meradang lalu kusembunyikan bulir...