Select Page
Terkadang, bingung dengan hujan. Dihujat tapi juga dicintai. Entah apalah maunya. Ada saja makian yang dialamatkan.

“Sial, hujan lagi!”
“Ah! Hujan kan, masa ga masuk kuliah lagi!”
Dan sebagainya. Seakan hujan adalah penyebab utama permasalahan yang dihadapi. Namun ternyata, hujan juga dicintai. Ada saja perasaan senang yang terungkapkan.
“Alhamdulillah hujan lagi …”
“Semoga hujan turun, biar ga panas terus-terusan.”
“Yes! Hujan turun! Aku bisa nendang-nendang genangan air di rumput halaman rumah!”

Jadi sebenarnya, hujan itu apa? Apakah karena jiwa muda itu labil, sehingga hujan yang menjadi objek kelabilan itu?