Select Page

Ketika rasa dan bahagia melebur menjadi satu. Menghadirkan kelabu di hadapan realita; tertawa di sampingnya sembari bergelak tawa, atau menjadi sandaran bahu atas derai air mata yang berjatuhan tiada habisnya.


Ketika hanya apa adanya yang tercipta, menghadirkan sukacita yang tiada terkira atau ketika tidak ada lagi dusta yang mengiringi rumitnya cinta.

Itulah mengapa, cinta bisa membuat sesiapa yang merasakannya, menjadi lupa. Ada dinding yang seharusnya membatasi; apakah dia hanya sementara atau untuk dimiliki selamanya.

Jika berani mencintai, maka harus berani memperjuangkan atau mengikhlaskan. Sungguh keduanya adalah tingkatan tertinggi mencintai.

Aku mengakui keberadaan tingkat perasaan itu. Ketika semua bermula dari pertemuan, kemudian hadir debar-debar berbeda, getir dan sesak saat tak mengingatmu sehari saja, sampai-sampai bibir ini kelu. Ketika harus memilih; memperjuangkanmu atau mengikhlaskanmu.

Aku tak mampu kehilanganmu, maka tak pula berani memilikimu. Ketika aku tak sengaja masuk jalur jatuh cintamu, aku memilih menepi dan berhenti saja. Cintaku biarlah memberimu kesempatan untuk terus melaju.

Dan kemudian, biarkan aku terus menunggumu. Dalam telusup doa yang merengkuh lembut wajah. Dalam telisik rindu yang sayup-sayup merasuk ke dalam pelupuk perasaan. Tak peduli apa pun yang hendak kamu lakukan; jalanku akan seperti ini adanya. Jika doa itu tersampaikan, maka menepilah ke jalan ini. ‘Kan kuhantarkan ke dermaga. Menuju muara yang sedang kutuju.

Aku terlalu takut, bahkan menyebut namamu dalam sujud saja rasanya tak pantas. Bukan aku yang kau rencanakan, bukan aku tujuanmu. Aku tahu sakitnya dipalingkan, maka jangan kaupalingkan rasamu darinya.

Percayalah, ketika waktunya tiba, aku akan memutuskan. Bukan perihal pantas atau tak pantas, tapi jika sudah di hadapkan pada pilihan, bibirku kelu seketika. Biarkan hati ini saja yang menunjukkan, siapa kelak yang akan beriringan bersamaku; kamu atau dia. Di atas sajadah cinta berupa ikrar hidup semati.

Perasaanku biar menjadi urusanku. Bagaimana keputusanmu itu menjadi kuasamu dengan-Nya. Kali ini aku ingin menepi sebentar, merapikan cinta yang berantakan, yang rasanya tidak terdefinisikan.

Baiklah, jika itu maumu. Kita bukanlah sesiapa. Biarlah perihal perasaan menjadi urusan kita masing-masing. Tapi, jangan lupa; Aku tak pernah menutup jalanku bagi sesiapa yang ingin memasukinya.


Barat – Selatan, 
Djakarta,

Saat Final Euro 2016 di depan mata


Kolaborasi Ariqy Raihan dan Fadhlia Nur Aini