Select Page
Perjalanan mencari dan menemukan selalu menjadi bagian yang paling sering kusangkal. Sebab aku hanya ingin berlayar, lantas ditemukan. Semata karena aku bosan dengan penantian panjang yang tak pula berujung kepastian. Kau tahu? Ketika ia dengan yakinnya mengulurkan harapan dan menemukanku, satu-satunya hal yang memastikan hatiku adalah tatapan matanya. Di tatap mata itu, aku melihat perasaan yang tidak pernah kaunyatakan. Barangkali kali ini kau bisa mengaku menanti, tetapi selama kemarin aku mengenalmu, kau hanya menunjukkanku perihal keraguan. Sehingga, bukan salahku bila kini kupilih kepastian yang lain.
Di sanalah letak kesalahanku yang paling sesal. Bahwa kepastian menjadi sebuah tanda tanya besar di kepalaku; ketidakpercayaan diri yang terus meranggas keberanian untuk mengatakan. Aku telah menyiapkan segalanya, namun waktu lebih membenciku; Ia tak mengizinkanku bahkan sekadar berbisik bahwa di satu waktu, akan kukatakan padamu bahwa aku begitu mencintaimu.
Aku tidak pernah tahu. Kau tidak pernah mengungkapkan. Kita telah lalai dari hati masing-masing; tak berhasil menerjemahkan tanda semesta, atau memang semesta tak pernah ingin memberi arti pada kata “kita” bila itu berarti kau dan aku. Mungkin memang beginilah seharusnya. Selalu ada pelajaran yang akan kauambil dari harapan yang hilang, dan biarkanlah aku sendiri mencari kata pulang. Setelah ini, kuharap kau memercayai takdir yang akan segera memberikanmu pendamping; seseorang yang tak hentinya mengabadikan namamu kepada Tuhan. Berbahagialah, meski bukan aku alasannya.
Di muara yang pernah ditujukan bersama, kita berpisah jalan. Aku merutuk tanpa henti, berdiri di tempat yang sama; menatap punggungmu mulai ditelan kabut penyesalan. Kenanganmu jatuh sebagai hujan–menderas dari pagi ke pagi. Sampai kapan pun, kamu takkan kembali. Berbahagia, itu tujuanku. Melepasmu, itu kesulitanku.

Semoga, doa yang tersemat selama ini tidaklah gugur. Barangkali ia mewujud ‘kamu’ yang lain, atau entahlah; aku lelah untuk berpraduga.
Sebuah Kolaborasi Ariqy Raihan dan Ivanasha
Jakarta – Abroad,
11 November 2018 | 01.33 AM