Select Page
Apakah benar kamu juga mencintaiku?

Katamu, tulisanku tidak menemui kematiannya sendiri. Ia sampai ke ambang jendela matamu dan menyelundup ke dalam ruang-ruang pikiranmu. Katamu, tulisan itu ialah pengantar dari rasa yang akhirnya terungkapkan. Pengantar dari rindu yang basah ketika akhirnya kamu belajar sesuatu dari kepergian dan mulai benar-benar mencari ke sekelilingmu.

Ada aku di sana.

Kamu hanya perlu melangkah lebih jauh lagi. Hanya perlu merasai hujan lebih lama lagi. Dengan begitu, aku jadi tahu bahwa kita mencintai sesuatu yang sama. Bahwa kita memang saling menuju tanpa kata.
Tulisan-tulisan yang dulu aku begitu ketakutan untuk sampai kepadamu ternyata menjelma harapan baru yang hinggap di merah bibirmu yang basah oleh air mata—ketika akhirnya benar-benar membaca segala yang kurahasiakan dari angin dan hujan.

Bila benar kamu menginginkannya, aku akan berhenti sejenak. Berpaling padamu. Dan itu bila benar, kamu menginginkannya.