Select Page

Chapter 16 Satu Selasa Lagi

Duduk di ambang jendela ketika hujan jatuh tidak pernah bosan kulakukan.Sebulan setelah perjalananku ke Curug Ciampea bersama Shofia, kehidupanku kembali berjalan dengan baik. Irene bahkan takperlu repot-repot menasihatiku perihal move on lagi. Kedekatanku dengan...

Seharusnya Aku Bahagia Malam Itu

Baik-baik saja.Konsep kosong. Segalanya tidak akan berjalan semestinya selama hujan terus menderas. Seperti kenangan yang tidak pernah tandas. Selalu berkelindan. Mungkin menunggu badai bernama penyesalan yang membuatnya kandas. Ayah, Ibu, kekasih. Mereka sama saja....

Sampaikan Salam Untuk Ayahmu

Aku rela menunggu lama, bila itu artinya aku akan menemukanmu. Aku pernah bilang itu sebelum kamu memutuskan pergi. Persetan dengan waktu. Kamu tidak selamanya menghilang. Aku percaya itu. Mencintai tidak pernah mudah, termasuk melupakanmu.Kamu duduk dengan sedikit...

Maaf

Aku percaya setiap manusia pernah melakukan kesalahan—besar atau kecil—dan ternyata kamu meyakini sebaliknya. Kata maaf hanya sebatas tulisan kosong; kamu telah melupakan makna dari “maaf” dan meyakini perkataan itu hanya sebuah pertahanan dari seseorang...

Kenangan yang Telah Usai

Aku tidak bisa menentukan kata-kata yang tepat ketika kakiku sudah sampai di depan bandara dan kamu mengatakan jangan pergi. Gila, kataku membalas pesan teksmu itu. Takdir memang suka bermain dengan perasaan kita. Bukankah, sekian lama kamu menganggap apa yang terjadi...

Menemukanmu [9.0]

“Hei! Sendirian aja?”Di tengah lamunanku sewaktu jam makan siang di kantin Sapta, sebuah suara yang tidak asing terdengar dan membuat lamunan itu berantakan. Aku menoleh. Iza dan seseorang lain lagi yang tidak kukenal. Berbeda dengan Iza yang hari ini menggunakan...