Select Page

Di jantung puisi itu, namamu taklagi berdetak.
Retak satu-satu, gugur sebagai detik-detik di
sepanjang ingatan yang gersang.

Bait demi bait jatuh ke tanah, mendebah upaya
yang payah. Terbawa angin dengan gelisah–tak
sanggup rebah, bahkan melupa sesuatu yang
pernah.

Aku menziarahimu saat Selasa tiba.
menguburkan namamu jauh di dalam
kesunyian; tersimpan di serat-serat
kemuning bernama sesal.

Andai kepergian itu takperlu berlabuh
di dermaga waktu, aku takharus jauh
mengayuh pengharapan yang semu.
kita, telah menjadi sampan yang tenggelam
meski masih asing dari sejatinya berlayar

Kolaborasi Ariqy Raihan dan Mempuisikan
J-B, 6 Desember 2018