Select Page

“Apa kabar?” menjadi pertanyaan paling rahasia saat ini. Sesuatu yang hanya bisa kuucapkan di waktu tertentu dan tidak semua orang tahu. Satu-satunya yang paling menahu hanyalah takdir. Ia yang menempatkanku di suatu jarak penglihatanmu yang buta. Di sanalah aku bisa bebas mencintaimu. Mendekap malamku yang kian dingin dan sesekali gigil tanpa demam.


Aku terus belajar melangkah tanpamu. Menyeruak gugur dedaunan sendirian, seperti di waktu-waktu silam. Ketika aku belum menemukanmu. Ketika aku belum tenggelam di samudra matamu yang paling dalam. Belajar melalui semua itu menjadi tantangan. Menjadi caraku untuk memahami seperti apa takdir bekerja.

Aku dan hujan sudah jarang sekali bertemu. Seusai aku harus meninggalkan tempatnya kerap bersemayam dan membangun kembali kehidupan di kota lama, sesuatu yang tidak ada kamu di dalamnya. Hingga takdir-lah yang menjadi tempat berkisah apa pun atau sesekali merutukinya yang seenaknya saja memutar-balikkan segalanya. Ia tidak pernah menanyaiku—beda dengan hujan.

Aku tahu, membicarakanmu tidak akan ada habisnya. Topik yang tersedia hanyalah tentang kebodohanku yang enggan untuk membelokkan langkah, kembali ke jalan di mana ada kamu di sana. Tetapi, aku sudah berjanji pada diriku sendiri untuk kembali memaknai bahagia itu lagi. Sesuatu yang selama ini hanyalah sebuah kepura-puraan ketika kamu masih berkelindan di semestaku.

Kamu tidak akan menyadari apa yang kulalui selama ini. Meskipun hanya sebuah asumsi, bahkan praduga, tetapi aku yakin, segala tentangku hanya melindap di matamu. Mungkin kamu sudah melupakan. Sehingga ketika tiba waktunya aku akan menjejak langkah menujumu lagi, kamu tidak tahu apa pun. Tidak merasa apa pun.

Lalu, pada akhirnya, takdir hanya menginginkanu sendiri—lagi. Bila hasil akhirnya seperti itu buat apa merepotkan diri dengan percaya bahwa aku bisa bersamamu meski harus menunggu lebih lama lagi? Aku bisa melakukannya. Selama apa pun. Tetapi, setelah detik terus bergulir dan menderas, aku mulai mencari tahu, apakah semua ini punya arti di matamu? Atau jangan-jangan aku berlari sendirian mencarimu, sementara kamu masih menggenggam jemari yang lain?

Duhai kamu yang menjadi penantianku selama ini, mungkin ada benarnya aku memutuskan berhenti menjejak langkah di hidupmu. Aku hanya ingin kamu bahagia—tanpa memikirkan tentangku. Aku hanya tidak ingin kembali terluka.

Lalu, itulah yang menjadi alasan paling kuat mengapa aku tidak lagi benar-benar ingin berlari menujumu sesegera mungkin. Segalanya punya titik. Pun penantianku. Tetapi, bila kamu ingin mencariku, kamu akan selalu tahu di mana aku berada.


Jauh di dalam relung kenanganmu yang ingin dilupakan selamanya, di sanalah aku berada.