Select Page
Iz, hujan sudah berhenti. Tidak seperti semula; hujan menyingkir dari jejalanan ini; tempat kita pernah menujukan muara. Serangkaian perpisahan menjadi tontonan di sisi masing-masing; kau tersenyum dan aku menguatkan hati untuk menatapnya.

Mungkin, perjalanan ini hanyalah fana. Kamu takpernah menganggapnya ada. Kepalaku menciptakan asumsi-asumsi bahwa di jejalanan ini selalu mengandung kata “kita”.

Padahal sebenarnya, hanya ada aku sendirian. Memeluk sunyi seakan kami kawan lama yang ribuan tahun tak bersua.

Iz, sedari semula aku tahu kamu takkan memilihku. Di tepi kota hujan, aku menikmati tetiap rinai untuk mencari tahu, seberapa jauh kelak aku akan menyadarinya. Dada ini bersikeras kelak kamu akan mencintaiku. Meskipun jelas tak ada namaku di relung perasaanmu.

Atau mungkin, aku terlalu berpraduga; diam-diam kau juga mencintaiku?

Kalau begitu, Iz, sebenarnya, sudah sampai di mana kita?

Kala mata kita bersitatapan di suatu hujan, kamu berdiri di seberang bersama kekasihmu, di sana aku menyadari tiada lagi kemungkinan yang akan membuat kita bersama.

Di sana, kamu telah menyatakan segalanya: bahwa perpisahan menjadi muara yang terbaik untuk kita.


Jakarta,
24 November 2018