Select Page

Berpura-pura selalu punya batas. Membohongi perasaan sendiri dan berasumsi bahwa segalanya baik-baik saja setelah kepergianmu. Masih ada sisa luka yang menganga di dalam dada. Masih ada sisa kata yang harus dimakamkan dari dalam kepala. Tidak ada yang baik-baik saja selama hujan menderas.

Dan air mataku, tak reda-reda.

Bermain dengan asumsi terkadang memang menyesakkan. Mencipta semesta dan membangun tetiap harapan baik di dalamnya. Menyematkan namamu di tetiap langitnya; hingga kala aku mendongakkan kepala, selalu ada namamu di sana—berdoa suatu hari nanti nama itu luruh dari langit dan resap ke dalam wajahku. Ketika itulah, aku akan menunjukkan kepadamu di hari bahagia kita.

Hari yang tidak pernah tiba.

Hari yang tidak pernah ada.

Bagaimanapun juga, asumsi tidak akan menolong apa pun. Tidak akan membawa langkahku hingga membuatmu mengetahuinya. Sehingga, dadaku yang paling tidak keruan. Kamu tidak salah apa-apa. Pernah mengatakan saja tidak, mengapa kamu harus bersalah? Sementara, jauh di dalam penyesalanku, ingin rasanya untuk menuduhmu.

Namun, aku sadar, segara rasa yang kualirkan menujumu telah mengering. Tidak ada lagi apa-apa yang menjembatani perasaan kita. Dan, aku, terus berpura-pura untuk tetap tersenyum dan berkata aku akan terus mencintaimu.

Persetan dengan perasaan. Berpura-pura ada batasnya. Namun, aku tidak pernah menahu, kapan aku harus berhenti berpura-pura.
Jakarta,
9 Juni 2018