Select Page

Sudah sampai mana langkahmu pergi dibawa angin kesunyian?

Sudah seterang apa senyummu terbit dari ufuk kenangan?

Sudah sekeras siapa kepalamu kala nanti hendak berdiskusi perihal yang paling duluan menyesali?

Sudah … lah, takusah lagi kita bicarakan ini. Sampai kapan pun, langkahku akan selalu gugur satu-satu. Senyummu lekat di dinding kamarku, kuberi pigura, dan kugosok setiap dini hari.

Hanya kala itu aku bisa menatapmu dari sudut mataku yang basah; dihujani waktu yang tanpa ampun menggenangi harapan.

Dua kata. Itu kamu.

Menunggumu. Itu aku.