Select Page
Bukankah dulu kita pernah menginginkan hal yang sama—bertahan dan tidak pergi lagi? Aku pernah membenci waktu untuk itu. Menyusupkan semua kebahagiaan ke dalam kepalaku seperti racun; menggeliat dari satu saraf ke saraf lainnya hanya untuk terus menjaga ingatanmu. Bahkan setelah dalam diammu, aku tahu bahwa kata “kita” sudah terbakar menjadi abu, ingatan itu masih membekas di dalam pikiranku. Jadi, sah saja aku mengambil langkah pergi. Aku tidak perlu membicarakanmu lagi.


Ya, aku baik-baik saja—kamu takperlu menanyakannya.