Select Page

Kita sama saja—tidak tahu cara mengeja selamat tinggal. Menafsirkan lambaian tangan sebagai jarak dan dinding—memantulkan segala harap yang kian lama mendingin; serupa kesendirian yang menyelimuti tubuhmu.

Dilan bilang rindu itu berat. Bagiku, menyapu air matamu jauh lebih buruk. Di sana, aku menangkap segala luka yang gugur satu-satu—bukti bahwa ketiadaan “kita” takpernah bermuara pada bahagia;

Satu kata yang telah mati dari semestaku—katamu.