Select Page
Aku baru menyadari sekarang kamu telah menapaki jalan yang berbeda daripada sebelumnya. Mungkin aku harus menarik semua rasa menyerahku di masa silam dan mulai mengunjungi jalanmu lagi. Kedatanganmu yang tiba-tiba, bersamaan dengan remukan kertas berisi harapa yang entah mengapa kini terbuka lagi di atas mejaku.

Sungguh, lucu bukan?

Untuk pertama kalinya aku kembali membasahi segara rasaku yang (pernah) kering oleh seorang yang pernah kuikhlaskan. Seseorang yang pernah kutunggui untuk sekian lama sebelumnya akhirnya aku benar-benar membunuh langkah menuju orang itu.

Kamu.

Berita tentangmu sungguh membuat diriku limbung; di tengah langkahku yang kini mulai menuju pada seseorang yang lain; seseorang yang serupa denganmu. Dan kini, kenanganmu begitu saja datang mengetuk ruang pikiranku dan ingin singgah untuk waktu yang takterdefinisi.

Haruskah aku membukanya? Atau menepisnya?

Hal itu menjadi pertanyaan yang sampai sekarang belum kutemukan jawabannya.