Select Page

Aku percaya setiap manusia pernah melakukan kesalahan—besar atau kecil—dan ternyata kamu meyakini sebaliknya. Kata maaf hanya sebatas tulisan kosong; kamu telah melupakan makna dari “maaf” dan meyakini perkataan itu hanya sebuah pertahanan dari seseorang yang telah berbohong berulang kali.
Lucu? Tentu saja. Aku kenal banyak orang yang begitu perfeksionis, tetapi kamu berbeda. Definisi sempurna adalah semesta berputar untukmu. Anehnya, hal itu yang membuatku ingin bicara denganmu lebih lama lagi. Pertemuan pertama kita di sebuah museum—aku sedang survei lokasi untuk acara komunitas, kamu menangkap keberadaanku dari kejauhan. Aku sadar itu ketika mata cokelatmu berlabuh di mataku. Sebagai salah satu guide di museum itu, pertanyaan yang kamu lontarkan kali pertama takpernah kutemukan di guide-guide lain di ibu kota ini. “Mau dibantu foto?” Aku terkesiap dan selanjutnya berusaha menahan tawa. Tidak, biasanya mereka akan menanyakan lokasi-lokasi yang bagus atau mungkin menawarkan jasa untuk menjelaskan barang-barang yang ada di museum itu. Dan pertanyaanmu di satu sisi, membuatku berpikir lebih jauh—ingin mengenalmu. Setelah pertemuan itu, aku (sengaja) menemuimu lagi di sana, berharap bahwa yang kamu katakan hanyalah sebuah kesalahan semata karena pakaianku yang mirip anak nongkrong. Kali ini aku berpakaian rapi, kemeja Levis hijau toska dan jeans hitam dengan merk sama, dan kemudian berusaha sebisa mungkin sebagai penikmat benda-benda dan lukisan antik. Dan benar, kamu datang lagi, dengan senyuman yang sama dengan sebelumnya—semanis gula, dan mendatangiku dengan pertanyaan yang sama. Lidahku tidak bisa menunggu lebih lagi untuk menimpalinya, “Mengapa kamu tanyakan itu? Aku ke sini berharap mendapatkan beberapa pengetahuan darimu.” Kamu memandangiku dengan aneh dan kemudian memasukkan kedua tangan ke dalam saku celana. “Tidak. Rerata mereka yang ke sini mengharapkan hal itu dan tentu saja kami akan menjelaskannya. Jadi, ketika aku melihatmu datang kepadaku setelah menyusuri ruangan ini, artinya kamu ingin menanyakan letak lift, tangga darurat, toilet, dan tentu seperti orang umumnya … minta difotoin.” Aku tercenung mendengar semua itu. Jemari kananku bergemetar sedikit. Getar itu selalu terjadi ketika aku sedang gugup atau tidak fokus. Sudah dari kecil begitu. Yang kuingat setelah itu aku hanyalah menyodorkan tangan dan menyebutkan nama—Achfaz. Kamu melakukan hal serupa dan aku tahu namamu dari nametag di dadamu—Ilyana. Itulah pertemuan dan perkenalan pertama kita. Tiga bulan setelah itu kita memutuskan bersama. Aku mengatakan perasaanku di sebuah warung kopi, disaksikan oleh pemilik warung dan beberapa pelanggan lainnya yang sedang menikmati kopi dan gorengan. Kamu tidak pernah menuntut apa pun. Kamu tidak pernah ingin aku menjadi apa pun. Cukuplah jangan pernah membuat kesalahan besar: meninggalkanmu dan membuatmu menangis. Dan, maaf, aku telah melanggar janji itu. Keputusanku untuk meninggalkan segalanya untuk berkelana—setelah ibu dan ayah meninggal—menjadi luka untukmu. Berulang kali kukatakan padamu sebelum pergi bahwa aku tak meninggalkanmu. Sebaliknya, aku butuh waktu untuk mencerna Takdir, butuh waktu untuk mengempiskan sesak di dada, dan mengeringkan danau mataku yang meluap-luap. “Tidak bisakah kamu mengajakku?” “Aku ingin, tetapi aku tidak ingin membagikan luka ini padamu. Tidak seharusnya kamu merasakan hal ini. Beda dengan perpisahan dari hubungan seperti kita. Perpisahan yang ini … aku ingin mencari tahu sendiri ….” “Kamu nggak bisa kayak gini, Faz. Kita sudah janji untuk melalui segalanya bersama. Kamu mau ngelanggarnya gitu aja?” “Ini hanya beberapa bulan saja, Na. Aku akan pulang.” Aku sadar kamu kerap bercerita bahwa kamu telah berkali-kali berhadapan dengan kata pergi sementara dan pulang, dan tak satu pun yang benar-benar kembali padamu. Hingga akhirnya kamu menyadari bila saja mereka kembali dan mengatakan “maaf” itu hanyalah sebuah pertahanan belaka. “Maaf, Ilyana ….” “Jangan katakan itu ….” “Apa yang harus kukatakan?” “Nggak perlu. Jangan pergi.” “Maaf, aku nggak bisa.” Kamu tidak berkata apa-apa. Hanya air mata yang jatuh di riak pipimu. Kita bicara tentang ini di sebuah rumah makan dekat indekosku. Kamu takmau mendengar. Menyeruput kopimu yang mendingin, menyelesaikan tangisan, dan kemudian beranjak pergi. Menyeberang ruangan, berlalu dari pintu kaca, dan menghilang setelah berbelok ke kanan. Jadi yang sebenarnya pergi aku atau kamu? Tepat setelah kepergianmu itulah, aku memutuskan untuk benar-benar menghilangkan diriku sendiri dalam sebuah perjalanan yang panjang. Dan kamu, masih tersungkur dalam isi pikiranmu. Melupakan arti kata maaf dan membenci kesempatan kedua. Terjebak dalam ketidaksiapanmu akan kepergian—pun kepada kata “Selamat Tinggal”. Kamu tahu? Aku percaya kesempatan kedua selalu ada. Artinya, aku akan pulang. Ada rumah yang akan selalu memanggilku, apa pun yang akan terjadi. Itu kamu.