Select Page

Selamat pagi, masa depan.

Maaf, bila sejenak aku benar-benar melupakan. Bertahan pada sesuatu yang telah lama meninggalkan jejak kepergian. Percaya bahwa kesepian hanya konsep belaka—tak pernah tiba. Semesta tidak bergerak seperti itu—ia berjalan membagikan takdir satu-satu dan bersamamu bukanlah bagian darinya.

Aku masih berusaha bernapas lagi. Setelah sesak yang menghimpit paru-paru setiap melihat senyuman yang tersenyum di kebahagiaanmu—seakan enggan menerima tentang seharusnya aku yang menjadi selimut dan air matamu. Mencintaimu tanpa jeda tidak akan berakhir baik ketika tiba waktunya untuk menyampaikan selamat tinggal.

Bisa saja aku yang salah karena bertahan. Atau sebaliknya, kamu terlalu cepat untuk melayarkan kapalmu di sebuah samudra perasaan. Segala kemungkinan itu bisa saja terjadi, tetapi sepertinya samudra perasaanku tidak pernah muncul di peta kehidupanmu.

Puan, bila kelak kamu akhirnya harus menambatkan kapalmu kembali di suatu dermaga, jangan pernah menyesal kembali. Aku pernah menunggu di tepian dermaga begitu lama, menanti kedatanganmu. Namun, mungkin akan tiba suatu waktu kau yang akan menunggu entah berapa lama hanya karena ketidaktahuanmu atas kepergianku.

Selamat tinggal, masa lalu. Selamat pagi, masa depan.