Select Page
Setelah mengenalmu, segalanya berubah dan menjauh dari sekadar abu-abu. Langit semakin membiru, dan senja tenggelam teduh dengan rona jingganya. Kau mengajarkan aku setiap warna yang baik bagi hidup. Meski dari jauh dan tak tersentuh, aku selalu ingin dekat denganmu, walau tanpa satu pun rengkuh. Sebab dalam keberadaanmu, aku menemukan mimpi indah yang terjadi sebelum aku tidur. Dan sebab perhatianmu, aku pun tahu bahwa rindu mampu tumbuh begitu hebat bahkan ketika kita belum sempurna melekat. 

Di mataku pernah hidup sebuah samudra, tempatmu mendayungkan perasaan sebelum jarak membuat lupa akan jalan pulang. Pada ombak bernama ketidakmungkinan yang kian mengejarmu—mengejar tetiap harapan yang dulu sama-sama kita sepakati. Bukan inginku, jarak ini hidup di antara kita; pun denganku yang juga mengerti bahwa rindu bisa tumbuh ketika kita belum menjadi sepasang yang saling memiliki.

Maka katakan padaku sekali lagi, jika upaya menanti bukanlah pilihan yang kini masuk akal. Sementara hati hanya bisa selalu berharap, sebab tak ada perasaan yang begitu mudah melesap. Aku hanya ingin kita baik-baik saja. Meniti segalanya dengan takaran yang sama, tanpa harus dilukai oleh rindu yang tak bosan-bosannya menyapa. Jika memang berhenti tiba-tiba adalah pilihan yang kauamini, aku hanya bisa kembali bersembunyi di dalam kesakitanku sendiri.

Kita baik-baik saja—meskipun kita tahu bahwa apa yang dipercaya itu hanya jalan keluar yang pura-pura. Tidak ada yang baik-baik saja ketika hujan masih menderas. Ketika kenangan perihal perasaan masih kerap terjun bebas di kepala kita. Tetapi, aku ingin menjadi yakin bahwa segala kepura-puraan itu kelak tumbuh menjadi kenyataan. Entah aku atau kamu, yang berusaha mengamini apa pun yang ingin kita usaikan, sementara sakit menjadi akibat yang kita tanggung. Aku hanya ingin kamu tahu, aku (masih) di sini, berjaga-jaga suatu hari nanti kamu akan kembali. Tidak pergi lagi.



12.15 pm // 7.15 pm
Kolaborasi menulis bersama Ivana Sha