Select Page

Judul Buku: Karung Nyawa
Penulis: Haditha
Rilis: 2018
ISBN: 978 602 220 265 3

Berbeda! Ini yang mau saya katakan ketika usai membaca Karung Nyawa karya dari teman saya, Haditha. Dari sekian banyak bacaan yang telah saya baca selama ini, novel fiksi klenik ini sukses menciptakan suasana yang segar dari segala bacaan yang ada.

Karung Nyawa merupakan sebuah kisah yang bercerita tentang penemuan mayat wanita tanpa kepala oleh Johan Oman, atau biasa disebut  Hanoman Ganteng. Penemuan ini berujung pada penyelidikan oleh Johan Oman dan teman-teman lainnya seperti Jabil, Tarom Gawat, dan Janet untuk menguak sang pelaku.

yang bikin saya tertarik adalah pembukaan yang segar dan langsung disajikan pada konflik—penemuan mayat tanpa kepala. Membuat pembaca bertanya-bertanya, kira-kira ke mana kisah ini akan bergulir. Lalu, suasana lokal yang kental, meskipun berbau fantasi kata si penulis, membuat saya percaya tanpa perlu mencari tahu bahwa daerah atau segala tempat yang ditulis di cerita ini nyata. Artinya, Haditha sukses mengembangkan latar dengan baik.

Suasana Jawa sangat kental di sini. Dari penamaan nama tokoh, nama-nama tempat, dan yang bikin saya terkejut lagi, cerita ini dimulai dengan “bebauan” thriller sebelum akhirnya dalam pengembangan cerita, ternyata punya banyak unsur horror di dalamnya. Perihal makhluk astral dan para penunggu pohon dan sebagainyalah … benar, benar membuat cerita ini semakin lengkap dan seru.

Korban tanpa kepala lalu penampakan dengan memegang kepalanya sendiri mengingatkan saya pada hantu Jeruk Purut. Sementara, setan yang lain saya kurang paham karena belum pernah mendengarnya. Karung Nyawa benar-benar memunculkan mitos-mitos daerah yang menjadi informasi untuk para pembaca.

Dalam pengembangan konflik cerita tidak punya masalah yang berarti, tidak banyak bab yang terlalu banyak deskripsi, meski di beberapa bab tengah, sejujurnya saya merasa agak menurun tingkat antusias bacanya, mungkin karena di fase ini, konflik yang diceritakan sedang dalam fase penyelidikan.

Bagian yang menurut saya, bisa dimaksimalkan lagi. Namun, antusias itu kembali meningkat hingga sampai bab terakhir ketika sudah mulai menemukan titik perang pelakunya. Dan, saya sangat suka dengan cara bernarasi dari penulisnya.

Horror-thriller-klenik merupakan genre yang berbeda. Kemasan Haditha dalam buku ini sungguh menyenangkan bagi saya, menyuguhkan pengalaman membaca yang baik dan seru. Sampul yang sederhana tetapi, warna merah darah mengingatkan saya pada si kepala korban. Walaupun, saya kurang paham perihal warna kuning di dalam sampul.

Untuk buku ini, saya kasih nilai empat koma dua.