Select Page
Sampai kapan pun, aku tidak akan pernah merasa pantas—meski perasaan ini ingin usai lekas. Kita punya batas; dinding tebal yang dingin dan bisu. Aku tahu betul, tak sekali pun kamu akan membuka ruang merindu karena pilihanmu bukan aku. Semoga kamu mengerti, memperbaiki diri bukan proses sendiri. Tetapi, bersama—semoga kamu tidak menyesal ketika aku pergi.
Lalu pernahkah kamu membayangkan bagaimana mengubah nanar menjadi tegar? Mengubah sepotong hati yang mengandung perasaan pada seseorang jadi sebuah kekuatan baru. Menghilangkan ketakutan, termasuk akan hal-hal terburuk seperti perpisahan. Menjauhkan segala prasangka, pada tatap mata yang tetap memilih baik-baik saja. Menjadi lebih hati-hati, dalam menyikapi hari-hari yang makin pasi.  Dan aku melakukannya kali ini. Pada ke sekian kalinya ketika aku sadar bahwa berharap terlalu dalam harus rela bernasib kelam. Pada pertahanan paling menyesakkan ketika membebaskan perasaan pada seseorang mau tak mau juga harus berani mengikhlaskan.
Sungguh, aku tidak ingin dingin yang memeluk kesendirian ini menguat, hingga akhirnya kita sudah terlalu beku untuk memahami arti mencintai itu lagi. Bila saja kamu memahami bahwa begitu besar aku memperjuangkan hingga tetiap sitatap yang labuh padamu hanya menikamku kembali—memenjarakanku di balik jeruji ketidakpantasan itu.
Namun, barangkali kamu dan juga aku harus sama-sama mengerti. 
Bukankah setiap orang punya perasaan dengan haknya masing-masing? Kamu tak boleh memaksanya sedikit pun. Termasuk aku yang tak pernah mau lagi memintamu suka. Namun aku tetap mendoakan yang terbaik. Untukmu.

Kolaborasi karya membicarakan perempuan yang sama; yang pernah hadir di hati masing-masing,
Ariqy Raihan dan Ikrom Mustofa
Jakarta-Wageningen


Tulisan ini juga bisa dibaca di blog Ikrom Mustofa