Select Page
Aku pernah berkata untuk tidak menulis tentangmu lagi. Setelah detik yang membenciku kian menegaskan bahwa kamu benar-benar akan menghilang. Kata-kata yang memenuhi dinding kamarku hanya menjadi penghias belaka tanpa pernah sampai maknanya.
Aku pernah berkata bahwa aku telah menyerah. Menyiapkan langkah satu-satu dan kini segalanya  pun gugur satu-satu. Tiada harapan lagi yang bisa ditanam. Aku pernah menunggumu untuk waktu yang lama dan itu bukan sesuatu yang mudah—bukan sesuatu yang bisa dilepaskan.
Sesaat ketika kedua mataku menatap segurat senyummu itu—senyum yang tidak pernah berlabuh di perasaanku, sesaat itu pula aku tahu bahwa segalanya kelak akan membunuh seisi penghuni dadaku. Senyum itu, senyum yang berlabuh di wajah lelaki pilihanmu. Dengan sebuah tanda yang tersemat di jemarimu; sebentar lagi aku bahkan tidak akan pernah bisa membunuh waktu untuk menunggu lagi.
Semuanya telah usai. Aku telah kalah. Oleh air mataku sendiri. Oleh penyesalan yang paling disesali.
Mungkin kamu tidak tahu, bahwa kehadiranmu menjadi obat penawar luka dari masa lalu yang pernah membuatku nyaris melupakan seperti apa bahagia. Kamu menjadi caraku belajar perihal menjaga langkah dan perasaan, karena takdir tidak pernah menautkan kedua perasaan kita. Perasaan yang kelak akan kumakamkan segera di dasar kenanganku yang paling gelap.
Namun, tiada yang bisa menebak ke mana waktu akan membawaku pergi. Pada akhirnya, kamu yang memilih pergi, dan aku tetap sendiri. Sederhana, bukan?
Aku hanya bisa tersenyum getir. Menertawai kebodohan. Dulu aku pernah berkata, untukmu, aku rela menjadi bodoh. Dan kini, kata-kata itu memantul dan melahirkan sesak yang begitu dalam.
Jakarta,
30 Juni 2018