Select Page

Adakah satu kali saja dalam hari-harimu, kamu menyesali atas segala yang sudah berlalu? Mensyukuri apa yang ada di hadapan matamu dan bersiap untuk sesuatu yang kelak menunggu?
Aku menunggu detik demi detik menjauh dariku, meninggalkanku sendirian di tepian kaki langit yang tiada ujungnya. Seperti menembakkan selongsong peluru, menembus kepala, dan kau akan mengerang sekuatnya. Tapi aku salah, peluru itu takkan pernah menembus kepalamu.
Karena peluru itu adalah dosa-dosa yang akan langsung menembus dadamu. Meliuk di antara ruang-ruang kosong dan gelap, menuju jiwa. Di sanalah dia akan membunuh dirimu seutuhnya. Dalam-dalam. Diam-diam.
***



Aku tidak pernah menyangka jika hidup bisa sebebas ini. Jika rindu bisa sesuka hati. Terkadang, ingin sekali bertanya, jika aku punya segala, buat apa repot-repot berdoa? Tuhan tidak akan mendengarkan. Karena dia hanya duduk menyaksikan. Di singgasana-Nya yang Maha Agung.

Duniawi adalah kebahagiaan nyata. Aku terlahir dari keluarga religius. Ayah dan Ibu berulang kali mengomeliku jika kerap pulang sesorean sewaktu kecil dulu dan meninggalkan kewajiban menghadap Tuhan.
Aku seorang pencari kebenaran. Aku pikir Tuhan tidak pernah mendengarkan.
Setelah akhirnya selepas pendidikan dua belas tahun wajibku, aku memutuskan untuk melanjutkan hidup di kota besar. Kota dengan gegap gempita kehidupan. Ayah dan Ibu menentang. Toh, hidup aku sendiri yang menentukan perjalanannya. Tidak ada sesiapa yang bisa melakukannya.
Bahkan Tuhan.
***
Ada satu momen dalam hidup yang akan memantik setiap manusia untuk memeriksa catatan kehidupannya lamat-lamat. Apakah yang dijalani selama ini sudah benar? Atau masih adakah jejak-jejak kesalahan yang belum sepenuhnya disesali?
Itulah yang membuatku berpikir tentang sebuah perjalanan. Hidupku bukanlah sebuah ruang atau dimensi kesucian. Aku mempertanyakan Tuhan. Bagaimana Engkau mendengarkan, sementara semasa muda aku terus berdoa pada-Mu aku ingin semua waktuku kembali? Kau bahkan tidak peduli denganku sama sekali!
Sesaat setelah menerima telepon dari Mas Azhir, tetangga sebelah rumah yang anaknya kerja di perusahaanku, dan mengatakan jika Ayah dan Ibu mengalami kecelakaan parah di jalan tol setelah tetiba sebuah truk, diduga supirnya mengantuk ngantuk, oleng dan mobil mereka yang tepat di belakangnya menghantam dengan keras truk itu.
Tuhan, mengapa kauambil mereka? Tegakah Engkau padaku?
***
Pada derai air mata langit yang berjatuhan, aku berdiri kaku di bawah Pohon Kersem. Bukan untuk meneduh dan menjauh dari kehilangan yang menyesakkan dada kini. Aku ingin tidak sesiapa pun tamu yang hadir di pemakaman Ayah dan Ibu tahu jika anaknya yang pembangkang ini juga ikut bergerimis di mata, meriak di pipi, dan menggenang di jurang perasaan.
Sekali lagi, aku mempertanyakan Tuhan. Hebat sekali orangtuaku diambil secepat ini! raungku dalam hati. Menciptakan ruang-ruang untuk mulai menjauh dari-Nya.
Aku bahkan takbisa berada di sana. Tak kuat rasanya hati ini, melihat pualam itu. Sepuluh tahun, batinku. Aku menghilang, hanya sekali setahun mengabari mereka bahwa aku baik-baik saja. Tak ada ruang untukku kembali ke rumah.
Aku yang menciptakan ruang itu. Sebuah ruang bernama selama tinggal untuk anak mereka. Aku bisa meraih hidupku sendiri!
Itulah kesalahan lain di masa lalu.
***
“Selepas lulus SMA, apa yang hendak kaulakukan, Nak?” tanya Ayah, menghampiriku yang sedang menjejali kaki di dalam kolam kosong, hanya berisi air.
“Aku ingin masuk kampus tersohor di negeri ini. Nilaiku mencukupi. Pasti masuk,” jawabku. Sementara langit tersenyum biru, Ibu membawakan kami sepiring emping yang diolesi kecap. Hari ini aku baru saja berdamai dengan mereka setelah bulan Ramadan kemarin, aku kabur dari program pesantren kilat dan mereka marah besar. Apalagi ketika aku bilang Tuhan tidak akan mendengarkan, emosi rupanya takterkendali lagi.
“Jangan jadi sombong begitu. Semuanya sudah dituliskan dalam takdir,” jawab Ayah mengambil sepotong emping dan memasukkan ke mulutnya. Kemudian dia mengelus rambut pendekku.
“Memangnya takdir itu apa, Yah? Aku melakukan semuanya karena aku mau dan aku ingin. Aku berdoa setiap malam jikalau aku ingin bisa menjadi yang terbaik, tapi nyatanya, ketika aku tidak belajar nilaiku jelek.”
“Semuanya butuh proses, Nak.”
“Akulah yang menentukan proses itu, Yah.”
***

Sepulang dari pemakaman Ayah dan Ibu, aku taklagi bisa menahan gemuruh di dada lebih lama lagi. Sesak yang mendera bertubi-tubi. Rasanya semua menjadi gelap dan aku tenggelam dalam lautan sepi. Aku memekik ketakutan, meminta tolong, tapi tak ada sesiapa di sana. Hanya ada aku dan kesepian.

“TIDAK!” pekikku. Aku melempar semua barang yang ada di atas meja. Rasanya sakit sekali. Hidupku yang serba ada, atau hasrat nafsu yang dengan mudah tercapaikan, ataupun kebahagiaan nyata lain yang kudapatkan seolah memudar saja, tersapukan oleh kehilangan ini.
Lantai rumahku kacau tak keruan. Porselen-porselen pecah, buku-buku berserakan, beberapa tanah dari pot berhamburan. Aku mencengkeram kepalaku sendiri.
Sepuluh tahun, tapi tetap aku tidak bisa menahan rasa sesak di dada ini. Hujan masih turun di mataku.
***

Memandangi danau adalah hal yang sering kulakukan di waktu kosongku. Kantorku yang letaknya takjauh dari danau, dengan pagar-pagar besi yang mengelilinginya. Biasanya akan ada Nyna, perempuanku, tidak resmi, tapi dia adalah bahagiaku di setiap malam.

Tidak, aku sudah bilang aku tidak ingin menemuinya lagi. Aku memandangi danau dengan tatapan kosong. Apakah aku adalah sesuatu yang memudar dari hidupmu, Ayah dan Ibu? Hal aneh, saat aku yang memutuskan pergi, takpeduli seberapa kalian takingin dulu, karena aku anak semata wayang, dan juga kalian belum siap melewati hari tanpaku. Kini, semua itu membuatku berpikir lagi. Saat aku memasung pasak di jantung kepergian.
Aku tidak percaya Tuhan. Semalam aku berdoa, meminta Ayah dan Ibu kembali, tapi mana? Mereka tidak kembali! Tidak ada yang namanya keajaiban! Hanya subjektivitas umum dari kisah-kisah masa lampau. Ingin sekali rasanya memaki. Tapi separuh diriku tetiba berkata jika aku harus menyelusup begitu dalam.
Bahwa apa yang kulakukan selama ini adalah kesalahan.
***

Kehilangan benar-benar mengajarkan bagaimana merasai neraka kehidupan. Aku merasa ada yang kosong di dada. Lubang yang menganga. Harta tidak lagi menarik perhatian. Wanita-wanita seperti Nyna tidak lagi memberikan hasrat, tapi rasanya begitu hampa.

Aku tahu, kehilangan bersahabat dengan kepergian. Ketika mereka pergi, sesaat itu pula Kehilangan hadir dan bersemayam di dadaku. Dialah yang membuat lubang itu. Tapi apa? Sesuatu untuk menambalnya?
Aku pun mulai mencari. Pada detik demi detik yang bersahutan memanggil jam, dan kemudian terus memilin hingga tahun pun tersebut.
Apakah salah aku mempertanyakan Tuhan?
Tetiba separuh diriku bertanya. Dan membuat kepala terus berpikir. Memeriksa kenangan-kenangan di masa lalu saat aku masih percaya bahwa Tuhan selalu mendengarkan. Tiap kesalahan, tiap keinginan yang tak terwujud di masa itu adalah bagian dari perjalananku mulai berpendapat bahwa tidak ada satu pun doa yang terkabulkan.
***

Aku memutuskan menjual rumahku, menunjuk seorang CEO baru untuk menjabat sementara, dan kemudian berkelana. Ke mana pun untuk menemukan arti kehampaan ini. Hingga pada sebuah kota yang kusinggahi, sesosok datang menghampiri lelapku di bawah pohon Pinus di sebuah hutan.

Aku tidak menyadarinya, sampai-sampai tetiba aku seperti mendengar seseorang memanggil namaku.
“Elyas, bangunlah ….” bisiknya di telinga. Aku terkesiap. Sesosok yang takkukenal berdiri di hadapanku.
“Siapa kau?” tanyaku, sedikit gemetaran. Seketika begitu melihatnya, peluhku bercucuran. Bagai anak sungai yang menderas di sepagian hari. Terdengar gemercik air sungai di dekat hutan itu, terdengar sesepoi angin mendersik tengkuk, dan gemeretak gigiku sendiri. Rasanya menjadi sangat dingin sekali.
“Akulah Sang Waktu, temanmu,” jawabnya.
Aku terbangun dan duduk di ceruk pohon. Tarikan napas dalam-dalam dan kemudian kuembuskan pelan-pelan. “Bagaimana kau menemukanku? Apakah kau tinggal di sini? Mengapa kaubilang kau temanku. Aku tidak mengenalmu!”
Sang Waktu tersenyum. Dia duduk di hadapanku, membakar beberapa ranting yang entah bagaimana bisa ada di situ, dan dalam sekejap kehangatan mengaliri seisi tubuh.
“Aku ada di mana pun kau berada. Aku ada di masa lalumu, di masa sekarangmu, dan bahkan di masa depanmu. Aku bisa ada di mana saja. Sepertimu, yang pergi meninggalkan semuanya, demi mencari sesuatu yang bisa menambal kehampaan di dadamu. Jangan menyergah, aku bisa melihat hingga ke kedalaman jiwamu.”
Aku menimbang sebentar dan kemudian menceritakan segalanya. Perihal kehampaan yang terasa, diakibatkan kepergian Ayah dan Ibu, kemudian bahwa hampir seluruh masa remaja hingga kini, selalu mempertanyakan Tuhan.
“Mengapa kaupertanyakan atas sesuatu yang bahkan, jauh lebih besar dari kehidupan yang kaujalani?” tanya Sang Waktu.
“Aku lelah,” jawabku. “Berdoa hingga taktahan lagi tapi tak ada satu pun yang dikabulkan. Ia tidak mau mendengarku.”
Dingin yang menguar sudah tergantikan kehangatan dari kayu bakar. Sang Waktu melanjutkan, “Sadarlah, El. Tuhan selalu mendengarkan. Tidak semua apa yang kauingini langsung terjadi begitu saja. Kau tahu, bahwa Tuhan selalu tahu kapan waktu yang tepat untuk kaudapat sesuatu yang kauingini. Dia ingin kau berusaha, tidak hanya duduk dan meminta.”
“Terserah kaulah, Waktu. Lantas, aku harus berbuat apa?”
“Temukan jawabanmu sendiri. Besok pagi kau akan segera tahu.”
Dan dalam sekejap waktu, Sang Waktu menghilang. Seketika semua perasaan dingin, suara gemercik air, menghilang begitu saja. Hanya ada kesunyian menguasai.
***

Di pagi hari, aku terbangun, dan mendapati diriku di sebuah ruangan yang tak asing. Loh, bukannya aku ada di sebuah hutan? Aku menyipitkan mata, berusaha mencari fokus dan benar ruangan ini tidak asing.

Hei, ini kan gedung pertunjukan di kotaku! Bagaimana bisa aku ada di sini? Terlihat di kiri dan depanku banyak orang-orang menatap lurus ke depan, pada sebuah panggung di mana seorang wanita berdiri di atas sana dan tampak menggumamkan sesuatu.
“Kita akan melalui fase di mana kehidupan adalah kita yang menciptakannya. Fase di mana kita bertanya-tanya apakah Tuhan itu ada? Saya pernah melaluinya. Saya kehilangan kedua orangtua saya, suami dan anak lelaki saya dalam sebuah ledakan bom. Beruntung saya selamat, tapi tidak mereka. Saya marah pada Tuhan. Tapi kemarahan itu menuntun saya untuk menemukan makna-makna kehidupan yang takpernah saya temukan sebelumnya. Makna yang semakin saya cari, semakin kerdil saya.”
Lalu para penonton wanita itu tampak terkesima. Senyum wanita itu benar-benar bisa membasuh jiwaku, yang bahkan baru tahu dia tinggal di kota ini.
“Apakah menurutmu Tuhan pernah sekali saja mendengarkan?” tanyaku, berdiri dan semua mata menujuku.
Sekali lagi, wanita itu tersenyum.
***

“Kau berhak berpikir jika Tuhan seperti ini, seperti itu. Tapi kau tidak berhak menghakimi.  Tuhan selalu mendengarkan, kok,” jawabmu. Berkerudung abu-abu dengan pakaian terusan yang menutupi seluruh tubuhmu. Baru kali ini aku berada di dekat orang-orang yang tidak membuka bajunya untukku. Namamu Alyssa.

“Tapi, doaku tida—“
“Belum atau kamu tidak menyadarinya.” Dan sekarang aku baru sadar ada sebuah lesung yang tercipta ketika senyum dan pipinya saling berimpit. Dadaku bergemuruh. Bukan amarah pada kepergian, tapi serupa terjatuh di atas rerumputan hijau.
 “Tapi, ya baiklah masuk akal. Tapi, aku merasa kosong di sini, Alyssa.” Aku menunjuk dadaku. “Seolah setelah kepergian mereka, aku merasa hampa. Dan aku tidak pernah merasakan diri ini sebelumnya.”
“Semua orang punya masa lalu yang hitam, El.” Kamu menatapku lamat-lamat, “Kita pernah memilikinya. Dan aku tahu betapa sesaknya itu ketika semua yang kita punya direnggut, kita ingin marah pada Tuhan. Tapi sesungguhnya, Tuhan sedang mengajarkan kita tentang menjadi pribadi yang berbeda. Manusia bisa berubah, El. Aku, kamu, dan sesiapa di luar sana. Tinggal kapan, kamu mau berubah.”
Dadaku tertohok, tenggorokanku tercekat, takbisa berkata apa-apa. Separuh diriku yang berontak itu bergemuruh tiada tara. Sementara separuh diriku yang lainnya terdiam. Aku tidak mengiyakan, tapi hatiku tahu jika apa yang kamu ucapkan tidak salah.
“Lalu bagaimana caranya?” tanyaku.
“Kamu harus bisa memaafkan dirimu sendiri. Memaafkan masa lalumu.”
***

Sepagi, sesiangan, sesorean, semalaman ini aku terus berpikir. Aku mengempaskan diriku di atas rerumputan hijau tepi danau, sesekali melemparinya dengan kerikil-kerikil kecil.

Aku harus bisa memaafkan diriku. Aku harus bisa memaafkan masa laluku. Dengan begitu kepergian Ayah dan Ibu bisa lebih bermakna.
Aku kembali menemukan diriku di atas langit yang tiada ujungnya, pada suatu hari. Tapi aku tidak lagi meringkuk ketakutan, saat aku berpikir sudah kehilangan arah perjalanan.
Ada satu hari, bahkan banyak, dari waktu yang kubuang hanya untuk menyesali semuanya. Namun, ketika aku memaafkan diriku, aku bisa merelakan semua penyesalan itu, dan kemudian mensyukuri apa yang sedang kuhadapi dan kelak menunggu.
Aku sadar bahwa Tuhan sesungguhnya mendengarkan. Hanya saja melalui cara-cara yang tidak pernah kusadari. Perlahan gerimis mulai membasahi pelupuk mataku. Aku meresap begitu dalam. Jauh hingga menyelusup ke dalam jiwa. Maafkan aku, Tuhan. Sepuluh tahun aku takpeduli padamu, tapi justru segala yang kudapat selama sepuluh tahun adalah kehendak-Mu.
Tetiba terdengar bunyi berdebum dari atas langit. Aku melihat ada sebuah buku dan sebuah surat terikat di atasnya jatuh ke sampingku.
Kamu menemukan jawabannya, Elyas. Lihat, semua itu butuh proses. Kamu menyadari kesalahan, kamu menginginkan perubahan, sampai menemukan jawabanmu sendiri. Sampaikan salamku buat wanita itu. Sesekali main ke peraduanku bersamanya. Aku menunggumu di balik langit ketujuh.
Aku tersenyum.
***
Enam bulan berlalu, aku pikir aku sudah siap untuk mengulang kembali semuanya. Pekerjaanku kembali, aku sudah mengikhlaskan masa lalu. Kehampaanku sudah tertambal. Namun rasanya masih ada ruang yang harus diisi lagi.
Dialah hati. Seserpih keajaiban yang Tuhan berikan pada manusia. Rapuh, tapi menguatkan. Jika manusia bisa mengutuhkannya dengan seseorang lainnya.
Dengan mencintai, manusia menggenapkan hidupnya. Dengan memiliki, manusia mengutuhkan hatinya. Dengan menikahi, manusia menyempurnakan jalannya menuju surga.
Suasana restoran in begitu senyap, hanya sedikit pengunjung yang datang. Interiornya yang hanya berisi bingkai-bingkai berisi kutipan-kutipan dari penyair terkenal, sederhana, dan menunya yang pasti sangat cocok dengan lidahku. Lidahmu.
“Terima kasih, aku tidak tahu harus berbuat apa. Tapi saranmu selama enam bulan ini pelan-pelan mengubah jalan hidupku. Lega rasanya memaafkan diri di masa lalu. Seperti aku bebas berlarian di sepanjang jejalanan atau taman bermain.”
“Manusia bisa berubah, El. Kita semua. Dan aku ikut bahagia akhirnya kamu menemukan sesuatu yang kamu cari.”
Tidak ada yang baik-baik saja selama hujan terus menderas. Tidak ada yang baik-baik saja jika rindu itu tak kandas-kandas. Itulah yang kuucapkan padamu, dan kamu hanya tersenyum. Lesung pipit yang selalu ingin kutatapi.
“Tak ada yang tahu, bagaimana cara Tuhan menggiring perjalanan manusia. Termasuk pertemuan kita enam bulan lalu. Kita punya kehilangan yang sama. Kita sama-sama menguatkan.”
“Jadi jawabanmu?”
Kamu terdiam sesaat dan memejam mata. Tidak ada lagi keindahan di muka bumi ini, lebih dari langit senja, ketika aku mendengarmu melirih,
“Ya. Aku mau hidup bersamamu. Sekarang dan selamanya.”
Dadaku merayakan diam-diam tanpa sepengatahuanmu. Benar, tidak ada yang tahu ke mana arah perjalanan. Tuhan selalu punya cara untuk menuntun umatnya. Dan Tuhan menuntunku padamu.
Kita pun tenggelam dalam bahagia. Dalam naungan rindu, membasahi jejalanan, kantor walikota, di mana pun kita akan berada. Karena kita adalah kisah yang akan terus disemogakan hingga akhir nanti.
Sesungguhnya Tuhan Maha Mendengarkan.
Dan Sang Waktu bahagia bukan kepalang di balik langit ketujuh. Sebentar lagi, dia akan kedatangan tamu.
SELESAI
Kepada detik demi detik yang semula menjauh namun kini sedekat nadi, ada sebuah hal yang kuingin kalian tahu, bahwa tak menghargaimu adalah sebuah kesalahan. Jangan pernah berpikir aku tidak kembali, karena aku ingin kamu terus mencatat perjalananku untuk selamanya. Karena berhijrah juga perihal memaafkan masa lalu.