Select Page
from unsplash.com

Di sini, secangkir kopi ditemani masa lalu yang lama tak berjumpa. Setelah ratusan hari, kau kembali pulang—tanpa alasan mengapa tetiba ingin menemuiku.

Rasanya kita perlu bersua, setelah kemarau panjang meretas temu. Bukan untuk menyandarkan rindu ataupun berbalas pelukan. Ada gejolak yang hendak mengucap sepatah kata berisi luka.

Di ambang petang, kau mengucap tentang luka—segala yang telah kita buang. Mengapa kautanyakan kembali? Apakah bahagiamu masih tertinggal seusai kata perpisahan terucap?

Jujur aku tak berdaya ketika riak-riak di matamu itu, mulai mengembun. Bagaimana pun harus kupaksa cerita kita berakhir. Maaf, seluruh janji yang pernah kuucap hanya menjadi sepah — selamanya kau tak akan bahagia jika bersikukuh bersamaku.

Bersamamu ialah satu takdir yang kuingin. Pada samudra di matamu—segala bahagia alir dan tenang. Namun, kata pergi menjadi makam untuk perasaan kita. Tetapi, itu dulu. Aku sudah memulai lembar hidup yang lain—tanpamu.

Semudah itu kau memulai lembar hidup yang baru? Lantas apa gunanya dulu kita menghidupkan banyak harap dan kenangan manis — sebab kini, semuanya porak poranda. Hingga aku merasa kau telah amnesia.

Aku tidaklah melupa pada bahagia yang kita cipta. Ada alasan lain, membuat tetiap langkahku ragu. Aku yakin kauakan kian benci, itu mengapa aku memilih pergi.

Aku masih berusaha menghentikan langkahmu. Bila ada hal yang tak kausuka dariku, katakan saja. Bila ada hal yang membuat retak, bukankah kita bisa membenahinya? Kau justru gegabah pergi tanpa memalingkan wajah sedikitpun. Matamu tak sanggup berdusta — geraknya menyingkap rahasia.

Baiklah, aku tidak ingin rahasia ini jadi racun bahkan setelah perpisahan. Bagiku, jarak ialah racun sesungguhnya—dinding tak kasatmata di antara kita. Setelah perjalanan panjang, aku tidak ingin menjadi sebab air mata meriak di pipimu. Lebih baik aku hilang—kaulupakan dengan segera.

Di sudut jendela itu, takdir memangku pilu. Kepercayaan yang kita bangun seketika luruh. Kau memilih kalah  dengan jarak yang sesungguhnya mampu kita lawan bersama. Sementara aku, enggan menyerah. Meski aku sadar, hubungan ini laiknya kepak sayap yang salah satunya telanjur patah; tak mampu memapah tubuh agar tetap terbang.

Aku memilih kalah agar kau takperlu lelah bertahan. Mungkin aku terlalu yakin, bila satu luka kugurat di hatimu, kau pun melupakan. Membakar segala kenangan ke udara malam—dingin, seperti kebersamaan kita ketika jarak hadir di antara.

Ketahuilah melupakan ragamu itu mudah. Tapi tidak dengan luka dan rupa kenangan di dalamnya yang masih kurawat dengan gigil. Tak perlu mengguratkan luka lagi. Aku sudah cukup menerima sakit. Aku kecewa atas keputusanmu, sebagaimana telah kutitipkan rasa percaya yang tetibanya terbelah.

Mungkin, aku yang bodoh menyianyiakanmu. Tetapi, aku sudah cukup terluka—jantung puisiku telah mati. Aku takpernah menahu apakah kita masih saling menyematkan doa atau tidak. Bersamamu, segala terasa dingin. Bersamamu, aku begitu sendiri.

Selama ini aku salah, entah menilaimu ataupun kisah kita. Barangkali aku terlampau berpihak pada rasa yang tak sungguh-sungguh bijak; mengikatmu terlalu — menggenggam tanganmu dalam ego. Doa-doa yang tersemai sebatas doa tanpa nyawa. Tak peka jika terasa senyap. Tak peka jika bersamaku, kau begitu sendiri di sepanjang jarak.

Kita sama terluka—berpisah jalan jadi cara untuk mengobati. Mungkin beginilah kita; memutuskan masa depan sendiri-sendiri. Kini, setelah waktu menderu, biarkan itu tersimpan rapat bersama waktu. Mari kita nikmati kopi ini. Meski taklagi bersama, ingatlah bahwa kenangan itu tetap ada. Semoga, kau bahagia selalu, Puan.

Ketika jarak menjadi penentu di antara kita. Sebuah kolaborasi Ariqy Raihan dan Afifah Khairunnisa,

#KolaborasiAgustus

Jakarta – Solo,
17 Agustus 2018 | 23.50