Select Page
Photo by Rod Long on Unsplash
Pagi tidak datang dengan cara yang sama lagi—secangkir kopi hangat cukup meredakan kesendirian yang beku, setelah apa yang terjadi membuatku begitu kelu.
Manusia yang tersesat di tubuhku adalah jiwa-jiwa yang mencari pelita. Memasrahkan diri dalam pengharapan, atau terperangkap dalam tanya bisu, atau jawab ambigu. Tak terkecuali seorang pemuda yang tengah menyesap kesepian di pusat jantungku itu. 
Tunggu, aku tidak pasrah; sepucuk perpisahan mematahkan asa—jadi kepingkeping tiada arti. Pada sepi, aku menyesap sesal dan emosi. Di jantung warung kopi, aku hanya berusaha menemukan diri lagi. Jangan salah paham.
Aku masih ingat senyum tawa yang kau semai di sepenjuru tubuhku, membuatku mual, kadang tergelitik, sebab setiap cikal cinta adalah akar dari arang asa. Dalam bingkai-bingkai rasa di sudut tubuhku tersimpan memori kenangan, yang mengkonversi tawa menjadi luka. Kau dan potongan hatimu–yang kini entah ke mana–turut diabadikan pada salah satu bingkai itu. 
Mungkin, kaulupa, wahai bangku dan meja plastik yang selalu menyamankan—Tiada yang abadi di dunia ini kecuali luka. Itu yang kini kaulihat di mataku. Itu yang kini hidup di dalam hidupku. Segala telah pudar. Hanya menjadi sekadar.
Tiada pahit yang kupersembahkan selain secangkir kopi. Tiada luka yang kau dapat tanpa pereda. Setiap pemilik kaki-kaki yang menjamah tubuhku diizinkan untuk bersedih, namun dilarang meninggalkan jantungku tanpa pulih. Cerita-cerita dalam gelas-gelas kopi, atau kilas-kilas sepi, akan mengajarkanmu tak setiap pertemuan berujung kebersamaan. 
Tahu, apa, kau tentang perasaan? Kau hanya mengingat—tidak memahami rasa. Kau mengingat segala tawa dan luka yang alir melalui gelas kopi ini. Hari ini, aku ingin memberitahumu bahwa bersama sepi selalu ada kehilangan. Itulah mengapa aku sendiri dan butuh kehangatan untuk memecah dingin.
Dalam aliran waktu, mengingat adalah caraku melatih memahami rasa. Dalam pustaka waktu, telah kutelaah rasa sebagai siklus yang tak berujung. Jika kau bersuka, kau akan terluka. Jika kau berduka, kau akan bersua. Pada setiap meja, akan kau temukan cangkir kopi dingin, yang menunggu hangat dari senyummu yang kini masih tertidur. Dia menunggu pemilik cangkir lain untuk menemukannya, menariknya dari gigil kesepian. 
Kau tahu, kau harus bersyukur bahwa kopimu ini serupa parasetamol bagi tubuh yang gigil. Pun dengan kesendirian. Tetapi, kali ini rasanya, berapa pun cangkir ini, akan sama saja, kecuali kau punya segala yang kaukatakan itu. Bila kaupaham rasa, katakan padaku, bagaimana cara menambal luka menganga ini?
Aku tak punya penambal luka yang kian hari semakin menggerogoti jantungmu itu, pun buku tuntunan mengobati segala jenis penyakit yang merasuki jiwa dan tubuhmu. Hanya orang-orang terluka yang memahami sakitnya dilukai, dan orang-orang terluka memahami sembuh seperti apa yang mereka idamkan. Kau butuh melangkah, serta meraih tangan yang pernah dijilat luka, yang butuh kau kau sembuhkan, lalu kau dan dia saling menyembuhkan. 
Nyatanya, tidak sesederhana apa yang kaukatakan. Ingatanmu yang mengakar, tumbuh sumbur bersama tetiap sedih dan bahagia mereka yang menjejak di sini. Satu hal yang tidak kauketahui, sepaham apa pun dirimu, kau takbenar-benar hidup di dalamnya. Tetaplah, jadi persinggahan bagi mereka yang butuh kehangatan. Kapan pun mereka butuh, kau selalu ada.
Itulah mengapa orang-orang yang dadanya ditikam luka adalah pemurung sombong yang nyaman dengan perihnya. Datanglah kapan kau butuh. Tak seperti mereka yang hadir dan pergi seperti tiupan angin, aku adalah setia yang paling abadi menemani orang-orang yang dikafani lara. Akan ada secangkir kopi hangat untuk sepotong cerita. 
Semudah kaubicara, wahai sesinggahan yang menghangatkan. Cukup, biarkan aku menikmati kesendirian. Biarkan ingatanmu berkelana di kesedihan. Barangkali, suatu waktu nanti, Tuhan sedang berkelakar dengan melahirkanmu kembali sebagai manusia—dengan ingatan itu tetap hidup di kepalamu. Mungkin, kau akan butuh kopi seduhanmu sendiri. Terima kasih atas percakapan ini, Warung Kopi Pengkolan.
Seandainya saya (Ariqy Raihan) bisa bicara dengan warung kopi pengkolan (Andra Titano B)
#KolaborasiAgustus
Jakarta to Jakarta,
13 Agustus 2018 | 11.57 PM